TUGAS MANDIRI 5-PENDIDIKAN AGAMA DAN ASAH SKILL-KAMPUS ITBI MILENIAL MEDAN
Pengertian Keluarga
Keluarga adalah bagian dari masyarakat sesungguhnya mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk budaya dan perilaku sehat. Dari keluargalah pendidikan kepada individu dimulai, tatanan masyarakat yang baik diciptakan, budaya dan perilaku sehat dapat lebih dini ditanamkan. Oleh karena itu, keluarga mempunyai posisi yang strategis untuk dijadikan sebagai unit pelayanan kesehatan karena masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan dan saling mempengaruhi antar anggota keluarga, yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi juga keluarga dan masyarakat yang ada disekitarnya.Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat. Adapun berbagai peranan yang terdapat dalam sebuah keluarga ialah sebagai berikut:
- Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
- Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peran untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya di samping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
- Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual.
Tugas Keluarga
Pada dasarnya ada delapan tugas pokok keluarga yang dijabarkan sebagai berikut:
- Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
- Pemeliharaaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
- Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
- Sosialisasi antar anggota keluarga.
- Pengaturan jumlah anggota keluarga.
- Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
- Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
- Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.
Struktur Keluarga
Struktur sebuah keluarga memberikan gambaran tentang bagaimana suatu keluarga itu melaksanakan fungsinya dalam masyarakat. Adapun macam- macam Struktur Keluarga diantaranya adalah :
- Patrilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis
- Matrilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis
- Matrilokal, adalah sepasang suami-istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
- Patrilokal, adalah sepasang suami-istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
- Keluarga Kawin, adalah hubungan suami-istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
Fungsi Pendidikan
Fungsi Sosialisasi Anak
Fungsi Perlindungan
Fungsi Perasaan
Fungsi Keluarga
Ada delapan fungsi sebaiknya dijalankan oleh keluarga yang dijabarkan sebagai berikut:
Dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.
Dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
Dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
Dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
2.contoh nyata peranan agama dan keluarga dalam pembentukan karakter.
Agama memiliki
kedudukan yang amat penting bagi kehidupan manusia karena agama mengatur segala
aspek kehidupan manusia. Agama tetap dibutuhkan manusia sepanjang hidup manusia
sebagai kebutuhan yang sifatnya primer. Fadholi dkk menjelaskan setidaknya ada 5
alasan utama kenapa manusia membutuhkan agama yaitu (1) agama sebagai kebutuhan
fitrah manusia, (2) kemerdekaan manusia, (3) agama sebagai obat kegelisahan hati, (4)
untuk mendapatkan kebahagiaan (ridla Allah), dan (5) mempertahankan martabat
manusia5
.
1. Agama sebagai kebutuhan fitrah manusia
Secara naturalisatik manusia membutuhkan Allah sebagai Tuhan atau beragama.
Fitrah agama ini menjadi kebutuhan dasar manusia, karena fitrah ini yang
membedakan manusia dengan hewan. Agamalah yang telah mencetak manusia
menjadi beretika dan berada. Agamalah yang yang telah mendidik manusia menjadi
berilmu sehingga meletakkan manusia dalam derajat yang tinggi. Tanpa agama
manusia dapat bertindak seperti hewan.
2. Kemerdekaan manusia
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kemerdekaan dalam
berinteraksi dalam lingkungannya. Kemerdekaan disini dimaksudkan bahwa manusia
dalam membina hubungan sesama manusia harus diwujudkan dengan
memperhatikan kepentingan orang lain, dengan cara megikuti aturan-aturan demi
kepentingan bersama. Agama memberikan kebebasan kepada manusia untuk
berinteraksi dengan sesama manusia selama tidak melanggar koridor agama. Agama berfungsi sebagai pengendali yang mengarahkan manusia ke arah kebaikan. Adanya
peraturan yang tertuang dalam bingkai agama bukan mempersempit ruang gerak
manusia, tetapi untuk memudahkan langkah manusia dalam langkahnya.
3. Agama sebagai obat kegelisahan hati
Manusia senantiasa bergejolak dengan perkembangan zaman yang menuntut
banyak hal dalam hidupnya. Gejolak hidup itu dirangsang oleh kekuatan hawa nafsu
dengan pelbagai keinginan yang ingin dicapai secara logika. Kekuatan hawa nafsu
dapat mengantarkan manusia pada dataran kebimbangan yang memungkinkan
manusia mengambil jalan pintas ketika dihadapkan dengan persoalan hidup. Nah,
agama dapat menjadi piranti kekuatan yang dapat membendung manusia dalam
situasi kegelisahan seperti ini.
4. Untuk mendapatkan kebahagiaan
Orientasi hidup manusia pasti menuju kepada kebahagiaan. Kebagaiaan itu tidak
memiliki standar tertentu karena substansi kebahagiaan dapat melahirkan makna
yang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Ada yang beranggapan bahwa materi
menjadi salah satu standar kebahagian hidup. Ada pula yang dapat menikamati hidup
dengan penuh tenang, damai dan sejahtera walau hidup dalam keterbatasan karena
mereka yang hidup dalam kondisi demikian dapat menikmati keterbasan tersebut
sebagai sebuah nikmat. Sementara ada pihak lain yang tidak mendapat kebahagiaan
walaupun bergelimang materi karena materi tidak dapat memberikan jaminan
kesenagan hidup. Agama memberikan ruang tersendiri bagi semua pihak untuk
meraih kebahagiaan baik yang miskin, yang kaya, yang berpangkat, atau lainnya
karena agma memberikan etika untuk menjalani hidup ini dengan penuh tanggung
jawab. Mematuhi koridor agama pastinya akan memberikan kebahagian dalam diri
manusia.
5. Mempertahankan martabat manusia
Manusia adalah makhluk cipataan Allah yang paling sempurna. Salah satu
keistimewaan manusia adalah dengan dianugerahi akal yang membedakan manusia
dengan makhluk lainnya. Tanpa agama, manusia akan terjerembab ke dalam jurang
kenistaan, karena manusia akan mudah terpengaruh oleh kekuatan hawa nafsu yang
senantiasa mengajaknya ke lorong kehinaan. Agama yang membekali manusia.
10 Peran Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian.
Orang tua memiliki peranan yang sangat besar dalam proses tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan dan pembentukan kepribadian seorang anak. Di sini peran orang tua dalam mendidik anaksangat penting. Proses pembentukan kepribadian yang diperankan oleh keluarga tidak dapat dilepaskan dari fungsi keluarga itu sendiri. BKKBN merumuskan keluarga memiliki beberapa fungsi, yaitu agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi pendidikan, ekonomi dan lingkungan.
Berikut peran-peran keluarga dalam pembentukan kepribadian seorang anak menurut fungsi keluarga yang dirumuskan BKKBN.
1. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Agama
Keluarga merupakan pondasi pendidikan agama kepada seorang anak. Penerapan nilai-nilai agama dapat menghindarkan seorang anak dari hal-hal yang melanggar hukum seperti misalnya korupsi. Ini adalah salah satu cara menanamkan kesadaran hukum kepada seorang anak.Untuk menjalankan fungsi agama, maka keluarga berperan dalam menciptakan pondasi pendidikan agama yang kuat kepada anak berdasarkan agama yang dianut melalui :
- Penanaman nilai-nilai keagamaan
- Keteladanan bersikap jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan
- Penerapan nilai moral dan sikap toleransi
- Keteladanan dan bimbingan untuk selalu menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan agama
- Keteladanan, bimbingan, dan dorongan untuk selalu disiplin, rajin dan ikhlas menjalankan kewajiban agama dengan penuh rasa tanggung jawab
- Keteladanan dan bimbingan untuk peduli pada orang lain, membantu orang yang membutuhkan tanpa pamrih
- Keteladanan dan bimbingan untuk taat aturan dan tepat janji
- Keteladanan dan bimbingan untuk saling menghormati, tidak bersikap kasar dan berperilaku sopan
- Keteladanan dan bimbingan untuk selalu bersikap tenang dan sabar ketika menghadapi persoalan
Dengan memiliki dasar-dasar pendidikan agama yang baik yang diperoleh dari keluarga, seorang anak akan memiliki nilai dan norma yang dapat menuntunnya menjadi pribadi yang beriman, bertaqwa, jujur, bertoleransi, rajin, saleh, taat, suka membantu, disiplin, sopan santun, penyabar, ikhlas, penuh kasih sayang, cinta kepada Tuhan, kebenaran, dan berakhlak terpuji. Jika setiap anak bangsa memiliki akhlak yang terpuji maka suatu bangsa juga akan memiliki karakter yang terpuji pula.
2. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Sosial Budaya.Keluarga merupakan tempat ditanamnya nilai-nilai budaya yang dianut. Indonesia adalah negara yang memiliki budaya, agama, dan suku yang sangat heterogen. Heterogenitas Indonesia dikenal dengan Bhinneka Tunggal Ika. Seorang anak harus benar-benar dapat memahami dan menjiwai semoboyan ini. Jika seorang anak merasa agamanya atau sukunya paling benar maka hal ini merupakan salah satu penyebab lunturnya Bhinneka Tunggal Ika. Jiwa kebhinnekaan ini hendaknya jangan sampai luntur. Untuk itu keluarga berperan dalam menciptakan pondasi pendidikan sosial budaya melalui :
- Penanaman dan pengembangan nilai-nilai toleransi sehingga anak dapat memahami fungsi toleransi dalam kehidupan sehari-hari
- Penanaman dan pengembangan sikap saling tolong menolong
- Keteladanan untuk saling menghormati dan menghargai budaya lain
- Penanaman dan pengembangan rasa kebersamaan dan saling berbagi
- Bimbingan cara melestarikan budaya
- Penanaman, pengembangan serta keteladanan dalam menghargai jasa para pahlawan, mencintai produk dalam negeri, dan pemahaman tentang pengaruh globalisasi dalam kehidupan
Dengan memiliki dasar-dasar pendidikan sosial budaya yang diperoleh dari keluarga, seorang anak akan memiliki pribadi yang penuh rasa toleransi dan saling menghargai, gotong royong, sopan santun, rasa kebersamaan dan kerukunan, peduli, dan cinta tanah air.
3. Keluarga sebagai Tempat Menumbuhkembangkan Rasa Kasih Sayang
Kasih sayang di antara anggota keluarga sangat dibutuhkan dalam rangka mempererat ikatan di antara anggota keluarga. Rasa kasih sayang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak menjadi pribadi yang dapat menghargai dan menghormati orang lain serta makhluk hidup lainnya. Sikap ini akan membuat seseorang tidak akan berlaku sewenang-wenang.
Peran keluarga sebagai tempat menumbuhkembangkan rasa kasih sayang melalui :
- Keteladanan untuk berempati pada orang lain
- Pelatihan emosional anak
- Dibangunnya rasa kepedulian di antara anggota keluarga
- Pemahaman agar memperlakukan orang lain sesuai dengan kapasitasnya
- Pelatihan agar tidak bersikap egois
- Bimbingan dan pengembangan sikap loyal pada keluarga, teman sebaya dan orang lain
- Keteladanan untuk selalu membantu orang lain
- Keteladanan, bimbingan, dan pembiasaan untuk bersikap penuh rasa tanggung jawab
Rasa afeksi yang dikembangkan oleh keluarga akan membuat anak memiliki kepribadian yang penuh rasa empati, supel, adil, pemaaf, setia, suka menolong, bertanggung jawab, santun, hormat serta penuh kasih sayang.
Terkadang anak merasa tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya. Kekurangan kasih sayang ini diakibatkan orang tua yang terlalu sibuk sehingga bersikap abai terhadap anak-anaknya. Jika bertemu dengan orang-orang yang bernasib sama dan memiliki perilaku yang buruk maka dapat mengakibatkan seorang anak melakukan hal-hal yang melanggar hukum. Misalnya tawuran, bersikap buruk pada temannya atau istilah kerennya “bullying”, terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan lain-lain. 4. Keluarga sebagai Tempat Berlindung
Di era globalisasi seperti sekarang, ancaman terhadap tumbuh kembang anak begitu nyata di depan mata. Berbagai kasus yang timbul seperti kekerasan pada anak, peredaran narkoba yang begitu pesat, pornografi, LGBT, serta radikalisme merupakan lima masalah besar yang dihadapi saat ini. Untuk mencegahnya, maka diperlukan kerjasama antara berbagai pihak terutama keluarga guna melindungi anak dari ancaman-ancaman yang ada.
Untuk menjalankan fungsi perlindungan, maka keluarga berperan sebagai tempat berlindung melalui :
- Diciptakannya rasa aman dalam setiap aspek kehidupan
- Keteladanan untuk memaafkan kesalahan orang lain tanpa dendam, berani mengakui kesalahan sendiri dan memperbaikinya
- Tanggap terhadap perasaan dan permasalahan yang dihadapi oleh anak
- Keteladanan dalam pengendalian diri dan bersikap sabar dalam segala situasi
- Keteladanan dalam menumbuhkembangkan sikap peduli dan setiakawan anak dengan lingkungan sekitar
- Komunikasi yang intens antara orang tua dan anak
Di sini, seorang anak bercermin pada tindakan yang dilakukan oleh orang tuanya ketika melindungi dirinya dari hal-hal yang membahayakan. Di sini peran ayah dalam keluargasangat penting. Hal ini membuat seorang anak belajar untuk memiliki kepribadian sebagai seorang pemimpin yang adil, amanah dan bertanggung jawab terhadap keluarga, memberi rasa aman, pemaaf, pribadi yang tanggap, tabah, peduli.
5. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Reproduksi
Terkait dengan berbagai ancaman yang mengintai tumbuh kembang anak, satu hal yang tak kalah penting adalah pendidikan seks kepada anak. Hal ini bertujuan agar anak dapat mengetahui dan memahami tentang kesehatan reproduksi serta menjaga organ reproduksi berdasar nilai dan norma yang dianut.
Untuk menjalankan fungsi reproduksi, maka keluarga berperan sebagai pondasi pendidikan reproduksi melalui :
- Pendidikan seks sejak dini agar anak dapat bertanggung jawab terhadap fungsi reproduksi
- Bimbingan dan penjelasan tentang kesehatan reproduksi melalui diskusi, pemberian kepercayaan, dan rasa tanggung jawab
- Bimbingan tentang akibat pergaulan bebas, larangan seks pra nikah, dan norma-norma yang mengatur
Hal-hal tersebut dapat menuntun anak untuk memiliki kepribadian yang mampu bertanggung jawab, sehat dan teguh pendirian.
6. Keluarga sebagai Agen Sosialisasi Pendidikan
Sebagai tempat bersosialisasi, keluarga berperan dalam memberikan pengenalan atau memberikan pendidikan mengenai hubungan seorang anak dengan orang-orang disekitarnya sebagai bekal untuk masuk ke lingkungan sosial yang lebih luas. Lingkungan sosial setelah keluarga yang dimasuki seorang anak adalah sekolah dan masyarakat.
Untuk itu, peran keluarga sebagai agen sosialisasi pendidikan meliputi :
- Keteladanan dan pelatihan sikap percaya diri
- Bimbingan, dorongan dan pelibatan anak dalam berbagai aktivitas
- Keteladanan untuk bersedia mendengarkan atau menghargai pendapat orang lain
- Pelibatan anak dalam komunikasi keluarga
- Pelatihan untuk selalu bersyukur
- Pelatihan untuk menghargai diri sendiri
- Keteladanan dalam rajin beribadah dan dalam berbagai aspek kehidupan
- Keteladanan, bimbingan dan pelibatan anak dalam berbagai aktivitas yang bermanfaat
- Disiplin waktu
- Bimbingan untuk bersikap tolong menolong, kerja kelompok, setia kawan
Hal-hal tersebut dapat menuntun anak untuk memiliki kepribadian yang mampu bekerja sama, disiplin dan bertanggung jawab.
7. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Ekonomi
Keluarga merupakan tempat pembinaan dan penanaman nilai-nilai dan perencanaan keuangan keluarga agar terwujud keluarga sejahtera. Untuk menjalankan fungsi ekonomi, keluarga berperan dalam :
- Keteladanan dan bimbingan agar cermat, dan hati-hati dalam membelanjakan uang
- Keteladanan dan bimbingan agar taat waktu dan taat aturan
- Keteladanan dan bimbingan untuk membantu orang yang membutuhkan
- Keteladanan untuk terus berusaha tanpa putus asa
Hal-hal tersebut dapat menuntun anak untuk memiliki kepribadian yang hemat, teliti, disiplin, peduli, dan ulet.
8. Keluarga sebagai Pondasi Pendidikan Lingkungan
Pentingnya lingkungan yang sehat dan bersih perlu dilakukan sejak dini agar anak memahami dan peduli pada lingkungan hidup di sekitarnya. Adapun peran keluarga sebagai pondasi pendidikan lingkungan adalah :
- Keteladanan dan bimbingan untuk selalu berperilaku bersih dalam segala hal
- Bimbingan untuk disiplin memelihara lingkungan sekitar
- Bimbingan untuk bijak dalam penggunaan teknologi
- Bimbingan untuk berpartisipasi dalam upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan
- Pemahaman tentang dampak hubungan manusia dengan lingkungan
- Penanaman sikap peduli pada lingkungan
Hal-hal tersebut dapat menuntun anak untuk memiliki kepribadian selalu menjaga kebersihan lingkungan.
9. Tempat memenuhi kebutuhan fisik maupun emosional
Keluarga berperan dalam usaha pemenuhan hidup seorang anak baik fisik maupun emosional. Kemajuan teknologi tak dipungkiri sangat mempengaruhi hubungan emosional ini. Anak lebih tertarik bermain gawai dibanding berada di tengah-tengah keluarga. Begitu pula sebaliknya. Tak jarang walaupun berada di satu ruangan namun sibuk dengan dunianya masing-masing. Anak menjadi tidak peka dan tidak peduli. Untuk mensiasatinya, orang tua harus meluangkan waktu dan berkomunikasi dengan baik-baik.
10. Motivator utama bagi seorang anak
Seorang anak pasti memiliki ketertarikan akan hal-hal tertentu dan cita-cita dalam hidupnya. Bila seorang anak mengalami kegagalan dalam perjalanan meraih cita-citanya, orang tua adalah pihak pertama yang harus dapat memberikan motivasi dan dukungan. Motivasi dan dorongan dukungan ini sangat penting agar seorang anak tidak terpuruk dan dapat bangkit lagi untuk berjalan meraih cita-citanya.
Ketika seorang anak merasa jenuh dengan sekolahnya, orang tua wajib membantu dengan memberikan motivasi bahwa sekolah penting masa depan. Jika anak mulai malas belajar, orang tua orang tua terlebih dahulu mengindentifikasi hal-hal yang menjadi penyebab anak sekolah menjadi malas belajar. Kemudian, mengingatkan dan memberi semangat belajar kepada anaknya tanpa kekerasan. Hal ini sangat penting agar anak menemukan kembali semangat belajarnya demi meraih cita-citanya.
🙏TERIMAKASIH 🙏

Komentar
Posting Komentar